Seberapa lama lagi aku harus menunggu tidur nyenyakku, makan enakku, dan pikiran tenang itu?
Seberapa lama lagi aku harus merasakan sesak didada yang tidak ada redanya?
Seberapa lama lagi rumah ini menjadi tempat paling nyaman untuk pulang?
Seberapa banyak lagi tempat yang harus aku kunjungi untuk sekedar mencari damai?
Seberapa lama lagi aku berhenti bertanya perihal "SEBERAPA LAMA LAGI?"

Aku ingin pulang pada hilang yang disebut tenang, aku ingin berbisik pada mereka yang terlalu berisik dan mengusik; Bolehkah sesekali aku yang didengar? bolehkah sesekali aku tidak dihakimi? bolehkah sesekali aku yang dipahami? 

Aku kalah, sebab lawanku kalian. Isakan itu tak berarti apa-apa untuk kalian bukan? aku kalah sebelum perang dimulai. 

kisah ini ditulis dari sebuah keresahan seorang perempuan dewasa yang tidak pernah terpikir akan ada dalam hidupnya.

Tiap pagi kupandangi cermin dengan seksama. Mata ituuuu, yaa mata itu tidak pernah lagi sedamai tujuh tahun kebelakang. Kerutan-kerutan dibawah mata yang menandakan bahwa aku yang semakin menua atau aku tidak pernah lagi menemu bahagia? 

Di umur yang hampir dua puluh lima, ketenangan yang kujumpai adalah jauh dari rumah dan manusia-manusia didalamnya. aku tidak ingin lagi berbicara pada mereka perihal apapun, seperlunya dan sebutuhnya ya begitulah aku sekarang, untuk apa bersuara jika selalu salah yang didengar?

Malam itu, malam dimana aku merasa tidak punya siapa-siapa untuk mengadu segala sesak yang menyeruak di dada. selain pada Tuhanku Allah SWT pada siapa lagi aku mengadu? orang tua? ibu dan bapa? tidak. Malam itu kami berseteru perihal paham yang beda, malam itu kunaikkan nada bicara yang menyakiti hati mereka dengan sebab yang seharunya itu tidak terjadi , malam itu ibu mengadu pada orang tuanya begitupun bapa. aku? pada siapa mengadu, mereka di bela sedang aku? hanya terisak perihal suara yang selalu salah adanya.





 

Komentar