Hujan kumohon jangan lagi

 Nama : Dina khotimah 20820120

Hujan Kumohon Jangan Lagi

Menggebu, tanpa debu, langit kelabu, tanpa biru, sang ilalang pergi hilang tak terbayang hingga ia menjadi kenang, dibulan yang  jelas tak berbintang, tak terhitung dirimu mematung, tanpa untung kau bertarung bagian rasa yang terkurung dalam relung yang tak berujung, semesta seperti sedang bercerita dikala itu, derasnya tanpa henti mengikuti lamunanmu, dibulan itu, di bulan Desember. Ditempat ini kau hilang dengan bayang yang tak pernah pulang.

Dengan masih kebaya Putih yang agak lusuh membalut tubuhmu, make up yang hampir luntur bercampur lumpur, bibir pucat tanpa cat, angin yang terus berhembus hingga mengigil dirimu dibuatnya. Tiba-tiba jas mendarat dipunggungmu, membuatmu bangun dari sandaranmu, Kedua bola mata yang  itu, menatap kedua bolamatamu dengan penuh isyrat agar kau tetap memakai jas itu, hanya tatapan kosong dari matamu dikala itu, hujan tak jua kunjung berhenti reda hingga kau masih harus bersandar lagi pada tihang biru itu, dengan kejadian yang sama dikala itu, jalan penuh kenang. Sesekali sayup matamu memandangi sebrang jalan, setengah warasmu hilang entah apa yang terbayang, hingga aku harus menceritakan padamu perihal dirimu dikala itu. Bulan yang sama dengan waktu yang berbeda dan kejadian yang serupa.

Sunyi, hanya saling berdiam diri tanpa tatap, tanpa kehangatan, tanpa cakap, sembari menunggu hujan reda, bersandar pada tihang besi, bercak-bercak cat yang sudah mengelupas, dan berkarat, sudah tidak ada lagi  yang merawatnya. sudah lama kendaraan tidak ada yang berlalu lalang di jalur ini, banyak yang lebih memilih jalur depan dan berteduh dihalte dekat perempatan sehingga jalur ini sangat sepi apa lagi setelah tragedi kecelakaan itu, yang membuat dirimu dihantui berbagai pertanyaan yang hampir  membuat kepalamu pecah,  halte yang konon katanya angker, namun tetap saja tempat ini yang menjadi tempat yang memiliki sejuta cerita yang kau miliki, hingga kau menetap ditempat ini dengannya. Pikir menyusur jauh pada kisah yang telah usang, hanya kenang dan genang bersama sang kunang, dan rintik hujan.

Tihang yang baru saja selesai dicat warna biru,  anak-anak manusia yang saling menunggu. Menambah syahdu melodi rindu, candu ocehan dikala itu, bagai kaldu dan madu sebagai rasa dalam haru. Tangan yang saling melambai dan saling mengucap "Hati-hati","Duluan" hingga kau hanya sendiri ditempat itu dengannya, 2 kata yang mengandung banyak makna, dan kau menyukainya Di bulan itu.

 

Derasnya turun begitu saja tanpa terduga, disore itu.  Seseoarang berlari, berteriak dengan keras, seperti orang yang jiwanya kurang waras. "Anyaaaa" senyum kecil dibibirmu, mengambarkan bahwa kau sangat senang akan kehadirannya, Lambayan tanganmu sebagai isyarat bahwa kau telah melihatnya. Berteduh, berdiri tepat disebelah kananmu mendekat dan dia adalah Anjas, laki-laki yang kau cintai setelah ayahmu, laki-laki yang melindungimu dikala itu, laki-laki pertama yang  berhasil membuat jantungmu berdegub kencang saat didekatnya, laki-laki yang yang membuatmu nyaman ketika itu. "Anya saya nyari-nyari kamu disekolah, sebelumnya saya mau bilang selamat hari  jadi ke 24 bulan ya Nya, ini milikmu saya kembalikan" katanya sambil mengembalikan barang yang dulu pernah kau beri, entah dengan alasan apa di mengembalikannya. Disisi lain kau merasa bahagia karena untuk pertama kalinya dia mengingat hari jadi kalian."Kamu ingat? Saya kira kamu lupa, seperti bulan-bulan yang telah lewat, Terimakasih, tapi maksud kamu ngembaliin album foto ini sama saya kenapa?"."Ada yang harus saya sampeiin sama kamu"."Perihal?" Tanyamu singkat. "Maaf, saya mau nyakitin kamu, hubungan kita cukup disini saja. Saya sudah cape" ucapnya lirih memandang kearahmu. Seketika saja kalimat itu mematahkan hatimu, sesaknya dadamu untuk pertamakalinya.

Entah harus suka ataupun luka, disisi lain kau bahagia, disisi lain pula hatimu berduka. Entah air mata bahagia atupun air mata luka. Menyatu dikala itu hanya berkaca, tanpa tangis kau adalah perempuan hebat yang ada dimasa itu. Kau hanya tersenyum tanpa ucap kau menundukkan pandanganmu. Mendekat ke arahmu dan mendaratkan jaketnya kepunggungmu "Maafpin saya, jaketnya pake ya. Dingin, kalo kamu sakit, kasian ayah kamu nanti repot" pergi dengan derasnya air hujan membasahi tubuhnya, sudut bangku itu, saksi bisu tentang patahnya hatimu. Bersandar pada tihang besi biru sebagai penopang tubuhmu.

Tengiang-ngiang hingga membludak dipikirmu, seenaknya saja dia pergi dari ruang hatimu, dan bersinggah di ruang baru. Sejuta pertanyaan tentang mengapa Iya meninggalkanmu memenuhi pikirmu sampai-sampai kepalamu hampir saja pecah dibuatnya. Barangkali dia lelah dengan perkara egomu yang selalu ingin menang, atau mungkin dia merasa lebih nyaman dekat dengan wanita lain dibanding dengan dirimu. terhentak hingga sesak, sadar akan hal apa yang ia katakan. Mengingat bagaimana kau dengannya ditempat ini pertama kali kau bertemu  dengannya dan aku menyaksikan dua anak manusia yang saling mencinta, dengan jajaran karib-karibnya yang mendukung saling mengucap "cie" saling bersorak, pipimu memerah, sangat bahagia dirimu ketika itu, dia menyatakan rasa hatinya padamu disini, seperti terbang dirimu melayang, bukan bayang ini adalah sayang, hingga akhirnya kau jatuh ke dasar jurang, sebuah pengakhiran dari tusukan sebuah pedang. Terhentak hingga kamu lagi-lagi sesak, sadar akan kalimat yang membuat dirimu terus bertanya tentang hal apa yang membuat Iya begitu teganya mematahkan hatimu, tanpa berpikir bahwa itu sangat menyakiti perasaamu, Masih ditempat itu kau terdiam dengan rintik hujan dan hembusan angin yang menembus tubuh yang terbalut jaket hangat milik anjas, teeettttt... suara klakson yang membuyarkan lamunanmu, membuat kau bangkit dari sandaranmu, dan kau sesegera mengelap pipimu yang basah..

Seorang laki-laki paruhbaya datang dengan mobil Kijang tuanya yang berhenti di sebrang jalan dan dia adalah ayahmu. Berlari sesegera mungkin dengan tas yang kau pegang di tangan kananmu dan kau jadikan payungan agar rambutmu tak basah, secepat mungkin dirimu masuk kedalam mobil tua itu, diraih tangan kanan ayahmu, kau tempelkan dijidatmu.

"Ayah dari mana aja?, Anya udah nunggu dari 2 jam loh !" Serumu kesal, sambil merapikan kusutan dirambutmu.

"Anya, anaku maafkan ayahanda kereta kencana besinya tadi mogok". Jawabannya yang membuatku geli

"Aihh, ayahanda katanya wkwkw". Ledekmu

"Jehh, malah ngeledek". Timpa laki-laki paruh baya itu

"Hahahahaha" dia adalah penyemangat bagimu, mengunggah rasa dalam dirimu.

Ayahmu sosok pahlawan yang paling kau banggakan, harta satu-satunya yang kau miliki, pelindungmu dan dia segalanya bagimu.  13 tahun yang lalu ibumu telah pergi meninggalkan dunia fana ini tepat diumurmu yang ke 4 tahun, saat kamu sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu, sejak itu kau hanya tinggal berdua bersama ayahmu, dia sangat menjagmu dengan dangat baik, rasa takut jika sewaktu-waktu iya pergi meninggalkanmu dan kamu tidak punya siapa-siapa lagi kecuali Anjas yang kau kenal didunia ini walaupun dia sudah memutuskan hubungan denganmu.

"Anak ayah kenapa, kok diem aja. Oyah anjas mana ko gaada? Biasanya dia suka nemenin kamu sampe ayah dateng, ko dia tadi gaada? Dia gamasuk sekolah?" tanya laki-laki paruhbaya itu. .

"Dia lagi sibuk, jadi dia duluan" jawabmu,  sebenarnya kau ingin sekali bercerita pada ayahmu bahwa kau dan anjas putus, tohh perihal hubungan kau dan anjas saja ayahmu tidak tahu. Jadi untuk apa kau menceritakannya pada ayahmu, yang ada ia malah akan menceramahimu. Pikirmu waktu itu.

Disela-sel suara rintik hujan dan lagu jadul yang setiap kali ayah putar dimobilnya sesekali kamu memandangi ponsemu berharap anjas mengirim pesan untumu nyatanya,  itu nihil. Tiba-tiba pesan singkat masuk ke ponsemu, kau kira itu dari anjas ternyata dari intan. 

Aku ingat jelas dengan isi pesan itu, yang hampir-hampir saja membuatmu menangis, seperti rintik hujan yang membasahi jalan dikala itu.

"Nya kamu putus sama anjas".

“Hmmm, kamu tau dari mana tan?".

"Knp putus?  Pantes si Anjas jalan sama si Revi".

"Revi? Oyah? Yaudah gpp, toh sama sayanya juga udah putus hehee   "

"Liat aja instastorynya Nya"

Komentar